jump to navigation

cuma cerita cinta 30 Agustus 2010

Posted by dodguervara in Tak Berkategori.
Tags: , , ,
trackback

Antara aku , kau, bapakku dan bapakmu
( sebuah analogi untuk bumi dipasena, wajah perikanan indonesia. 10 tahun perjuangan tanpa hasil yang memuaskan )

Untung saja siang ini matahari mau bekerja penuh, sudah tiga jam mati lampu . Alhamdulillah, tak terdengar kabar ada udang saudaraku yang mati diseberang sana hanya selentingan berita tenteng kabel jaringan yang tertimpa pohon tumbang.
” Apa tak cukup uang yang dipinjam dari bank untuk beli gergaji?” umpatku.
Nada pesan berdering dari handphone yang ku taruh diatas televisi peninggalan bapak. Genap satu minggu pulsanya tak ku isi, hutang 900 ribu tak bakal cukup untuk biaya hidup sebulan kalau handphone butut itu rutin minta makan.
“ mas, nnti mlm klo bs ke rmh. Ad yg mw aq omongin.” Sebaris pesan singkat dari pacar.
Lagi- lagi buang uang fikirku, tak tau apa dia ini tanggal berapa . padahal aku sudah bilang aku tak lagi bisa cari uang tambahan, cari udang dikali sudah tak boleh, mau tanam sayuran lahannya lumpur semua, mau apalagi. Seharusnya dia tau utang 900 ribu itulah sisa nyawa bulananku satu-satunya. Tapi masalahnya cuma dia perempuan yang aku sayang, walau pekerjaannya cuma tukang jagal kepala udang.
…..
Bensin,rokok dan ongkos nyebrang dua puluh lima ribu, kalau begini tiap malam kapan aku bisa punya uang untuk melamarnya. Sepanjang jalan sambil menggerutu, aku coba mengira-ngira apa yang mau dibicarakannya. Aku khawatir ia bosan pacaran dengan plasma kere macam aku.
“ kok lama banget sih mas…?” sambutan hangat pacarku yang penuh nada sinis karna sudah lama menunggu
“pontonnya (penyebrangan) macet “ jawabku singkat.
“ ada apa to ?” tanyaku sambil duduk mendekatinya
“ aku tadi disuruh berhenti kerja sama saudaramu, mereka bilang atas nama bapakmu” jawabnya dengan nada sinis
“ tapi kamu ndak kenapa-kenapa kan?” timpalku
“ ya, aku sih ndak apa-apa, tapi aku ga bakal dikasih duit sama bapakku kalo cuma kerja setengah hari”.
Aku terpaksa cuma diam. kalau dia sudah bicara soal uang, saat ini aku lebih baik menyerah. Bapaknya dan bapakku dari dulu memang jarang terlihat akur sebab bapaknya sering kali bikin saudara-saudaraku susah, walau bapaknya tiap bulan memberikan hutang padaku dan saudara-saudaraku buat makan bukan berarti bapaknya bisa mengatur kami semau dengkul. Toh hutang yang diberikan pada anak-anaknya bapakku memang sudah menjadi syarat kerjasama yang disanggupi bapaknya di hadapan mbahku dulu.
“kenapa sih mas, kamu, saudaramu juga bapakmu ndak pernah senang dengan bapakku?”. Tanyanya seolah mencoba menyudutkanku
“ kami bukannya ndak senang sama bapakmu, kami cuma nagih omongan dan minta kejelasan nasib sama bapakmu”. Jawabku membela
“ memang bapakku dulu bilang apa?” tanyanya lagi
“dulu bapakmu bilang mau betulkan kolam itu dalam waktu cepat, terus dia bilang mau carikan pinjaman uang buat anaknya bapakku, dan dia juga bilang mau menjamin kesejahteraan ”. Ujarku memberinya pengertian
“ kenapa musti cepat- cepat?”
“ kalau begini terus , utangku semakin numpuk sama bapakmu. Sampai kapan kita pacaran terus, mau kawin modal apa kalo utangku ndak lunas-lunas. Memangnya kamu ndak mau aku lamar?”
Jawabanku yang terakhir membuatnya terdiam, mungkin ia sudah mulai merasakan emosi yang sedari tadi aku simpan. Aku pun tau ia tak sepenuh hati mendukung bapak barunya yang satu ini. Terlebih bapaknya telah mengusir ratusan saudaranya tanpa alasan yang jelas, juga mengasingkan yang sebagian ke kebun jagung. Bapaknya juga sering membuat aturan-aturan baru tanpa memperhatikan upah dan kesejahteraan mbakyu-mbakyu nya.
“ besok kamu kerja,ndak?” tanyaku coba mencairkan suasana
“ saudaramu gimana?, aku takut mereka marah-marah lagi”.ucapnya kembali bertanya
Kupandangi ia dengan penuh senyuman kemudian kutatap matanya dalam-dalam, iba dan kasihan menyelimuti perasaanku
“ saudaraku itu punya istri yang juga kerja tempat bapakmu, ndak mungkin mereka lama-lama marah disana. Mereka pun ndak mungkin marah tanpa alasan, jadi kamu jangan takut saudaraku ndak bakal ngerusak tempatmu kerja. Tempatmu kerja itu duitnya saudara-saudaraku juga” ucapku meyakinkannya
“Memangnya tadi saudaramu marah kenapa to?” tanyanya dengan suara merendah
“saudaraku marah karna bapakmu mbeli udang dengan harga yang ndak sesuai, belum lagi udangnya dipilih-pilih buat nentuin harga. Padahal kamu juga kan tau kalo udang-udang itu akhirnya tercampur, diolah terus dijual dengan harga yang sama” jawabku
“tapi, kadang-kadang ada saudaramu yang datang sendirian sambil marah-marah padahal udangnya memang sudah rusak?” tanyanya lagi mencoba menyudutkanku
“begini…, aku bukannya coba mbela saudaraku cara mereka memang salah, tapi aku yakin kamu juga tau latar belakang pendidikan saudaraku ndak terlalu tinggi dan kamu kan tau udang itu satu-satunya tumpuan hidup aku dan saudaraku. Dan biasanya bapakmu juga yang ndak becus ngurus udang udang yang udah mati itu waktu dibawa ketempatmu kerja, kamu lihatkan peti-peti itu sudah bobrok semua belum lagi masalah lainnya” jawabku panjang sambil berharap ia mengerti
Sebenarnya terlalu banyak ketidak becusan yang telah dilakukan bapaknya selama ini, namun melihatnya merasa tersudut aku jadi tak tega meneruskan perkataanku. Bapaknya sering kali membuat kebijakan yang merugikan aku dan saudaraku menaikkan harga kebutuhan sementara udang yang dibelinya jauh dari kata seimbang. Menjual barang kebutuhan dengan jumlah yang kurang namun membeli udang dari kami dengan jumlah yang harus lebih. Dan bila saudara pacarku ini ada yang salah timbang waktu kami menjual udang tak sungkan-sungkan si bapak ini memecatnya. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat bapaknya pacarku ini membuat susah aku dan saudara-saudaraku juga dia dan saudara-saudarinya.
Hembusan angin malam mulai terasa menusuk, sementara rembulan mulai redup bersinar dibalik awan-awan hitam. Jalan-jalan mulai terlihat sepi membuat suara jangkrik semakin riuh
“dik, mas pulang ya?” pinta ku memecah kebisuan
Pacarku diam tak menjawab, kepalanya menunduk menutupi wajahnya yang tampak penuh beban. Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan, bahkan kegelisahan hatinya sudah bertahun-tahun mengendap dihatiku jauh sebelum aku mengenalnya.
“sudah, jangan terlalu kamu pikirkan tentang bapakmu itu, do’akan saja bapakmu itu berubah. Atau kalau ia tak mau berubah kita carikan bapak baru yang lebih baik untuk keluargamu, supaya semuanya jadi lebih baik dan kita bisa lebih cepat menikah… mas pulang ya?” pinta ku lagi sambil merayunya
Anggukan kepalanya mengiringi langkahku, menembus malam dengan awan-awan yang sedari tadi sudah siap menumpahkan hujannya. Kupacu sepeda motor bututku menembus kepulan debu diantara aroma busuk kepala udang, mengejar penyebrangan yang sebentar lagi tutup, mengejar hari esok yang masih penuh dilema antara keluargaku, bapaknya dan hewan yang perutnya ada dikepala.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: