jump to navigation

Tambak udang 3 September 2010

Posted by dodguervara in Tak Berkategori.
add a comment

Tambak udang dan keplasmaannya (part 1)

(keberlanjutan dan hak kemerdekaan ekonomi anak bangsa)

 

Sebuah wacana yang berjudul “kebangkitan”.

Sejak terjadinya peristiwa kerusuhan yang menelan korban jiwa pada awal maret tahun 2000 . sebanyak 16.500 hektar tambak udang di pesisir utara lampung tak lagi beroperasi sebagai mana mestinya. Eksport udang indonesia menurun drastis dan ribuan petambak plasma pt dipasena citra darmaja terkatung-katung nasibnya, lembaga bantuan hukum untuk para petambak plasma yang tergabung dalam Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (pppuw) segera mendesak pemda setempat untuk mengutamakan kasus pt dipasena karna termasuk aset yang cukup besar untuk menopang perekonomian di propinsi lampung, namun hingga kini tak juga ada usaha nyata dari pihak-pihak terkait untuk membantu penyelesaian masalah yang terjadi di wilayah tambak udang terbesar di asia tenggara ini.

Ribuan petambak yang pernah ikut andil memberi sumbangsih devisa US$ 167 juta kepada negara pada tahun 1996 dan US$ 131 juta pada awal krisis tahun 1997 , acap kali menjadi bulan-bulanan politik dari pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mencoba mengambil keuntungan. Namun terlepas dari semua itu, para petambak justru menjadi lebih tanggap dan kritis terhadap aturan-aturan pola kemitraan dan hak-hak azasi sebagai warga negara.

Perhimpunan petambak plasma udang windu (pppuw) lampung yang resmi didirikan pada tanggal 30 september 1998 menjadi satu-satunya wadah aspirasi bagi 9032 kk yang hidup dan berbudidaya secara mandiri di wilayah bekas kekuasaan salah satu orang terkaya di negeri ini. Meski tak lagi melakukan aktifitas eksport ke negara luar namun setidaknya para plasma ini mampu sedikit memperbaiki kondisi ekonomi, juga sosial dan budaya yang semestinya terjadi di atas setiap tanah yang mengibarkan kain merah dan putih sebagai bendera. Dibangunnya lembaga ekonomi p3uw, bantuan serba guna untuk kondisi keamanan, pengadaan dan perbaikan sarana sosial dan umum, sarana budidaya,dan penambahan sarana pendidikan memberikan secercah stabillitas untuk kehidupan plasma yang sesungguhnya berperan sangat besar dalam perkembangan wilayah-wilayah transmigrasi di sekitar areal pertambakan tersebut. Bahkan ukm-ukm bidang pembibitan udang yang tersebar dipesisir selatan lampung hingga jawa barat pun ikut merasakan hal ini.

Seiring waktu dan kondisi alam bumi dipasena yang terus tersuspensi oleh sedimen lumpur dari aliran sungai mesuji dan tulang bawang, kanal-kanal pembuangan dan saluran masuk mengalami pendangkalan yang menjadi masalah baru dalam proses budidaya mandiri yang berjalan apa adanya. Belum lagi ditambah limbah dari pabrik pengolahan udang dan pabrik pakan milik pt dipasena yang masih beroperasi didalam lokasi dan berjalan tanpa pengawasan ketat dari intansi lingkungan hidup setempat.

Keuangan dan tekhnis sudah barang tentu merupakan titik kelemahan bagi setiap petani tak terkecuali plasma, sehingga pemeliharaan sarana dan optimalisasi tambak-tambak yang ada tak mungkin terwujud tanpa adanya campur tangan investor dan pemerintah. Pelaksanaan budidaya di bumi dipasena akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah setelah pt dipasena diserahkan kepada Badan penyehatan perbankan nasional (BPPN) sebagai aset negara karna didalamnya menyangkut masalah hajat hidup orang banyak . Menunggu kepastian dalam keterpurukan bukanlah hal yang mudah ,para petambak terus mendesak pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan dan segera merevitalisasi sarana yang ada. Sementara untuk bertahan hidup dan membiayai perjuangan mereka mencari ikan disaluran-saluran air, menjual barang bekas ,bercocok tanam dan lain-lain.

Setelah sekian lama menunggu akhirnya pemerintah memberi respon positif terhadap tuntutan para petambak, melalui perusahaan pengelola aset (ppa) pt dipasena ditawarkan secara terbuka kepada para investor yang akhirnya dimenangkan oleh recapital advisor milik dua karib, Sandiaga Uno dan Rosan Perkasa Roeslani setelah mengalahkan beberapa pesaing lainnya. Diakhir oktober 2005 Pahlawan baru untuk ribuan petambak dan karyawan pt dipasena ini menyanggupi persyaratan yang diajukan pemerintah berupa kewajiban membayar dana talangan dan beberapa opsi tentang kepemilikan saham, bayangan tentang kehidupan yang lebih layak tergambar jelas diraut wajah anak-anak bangsa bumi dipasena. Namun senyum itu tak bertahan lama, 1 maret 2007 persis tujuh tahun sejak kejadian mencekam yang menewaskan dua orang anggota brimob dan satu orang petambak, recavital advisor melepas pt dipasena kembali ke pangkuan pemerintah. Infeksi lambung manajemen dan masalah sistem pencernaan pada hal-hal komlpeksitas yang salah perhitungan membuat recapital advisor harus merelakan dana 700 milyar yang hendak di konversikan menjadi saham.

Kembali menanti dalam ketidakpastian, ribuan hectare petakan tambak yang terabaikan, harapan-harapan yang kembali menjadi angan, lilitan hutang yang semakin dalam, dan konflik internal yang bermunculan ternyata tak menyurutkan perjuangan pengurus dan ribuan anggota perhimpunan petambak plasma udang windu (PPPUW) lampung ini untuk terus mendukung realisasi dari pemerintah pusat untuk meneruskan program revitalisasi seperti yang mereka idam-idamkan. Dengan pertimbangan pelaksanaan revitalisasi secepatnya dan syarat minimal lima tahun pengalaman usaha budidaya udang serta uang tunjuk 1,7 trilyun ,kali ini pt ppa hanya mampu menggaet empat kontestan. Dan ketika uji kelayakan dimulai dua diantaranya dinyatakan kalah, konsorsium dari thailand yang bernama ‘thai royal’ tak bisa maju karna tak dapat dukungan dari induk perusahaannya sementara ‘laranda’ jagoan dari filipina di nilai ko karna belum setor uang keamanan buat deposito. Sehingga tersisalah dua calon pahlawan ‘kemilau bintang timur’ yang membawa bendera merah putih dan, ‘neptune’ bermotor central proteinaprima yang disinyalir tetasan charoen pokphand, konglomerat asal thailand yang juga pernah berniat memiliki aset dipasena ketika lelang pertama pada oktober 2005 dan harus mundur karna recapital advisor dinyatakan sebagai pemenang.

Tim juri yang pada saat itu, yang terdiri atas pt ppa dan tim independen disaksikan oleh tim kejaksaan agung dan badan pengawasan keuangan dan pembangunan (bpkp) membuat tiga kriteria penilaian yaitu, profil perusahaan, komitmen pendanaan dan rencana usaha. Pt kemilau bintang timur pada saat itu berusaha mati-matian untuk memenangkan kontes lelang tersebut. Mulai dari topangan dana fund asia, menyanggupi pembayaran gaji 8.000 karyawan, hingga menggaet medco energi untuk memastikan 160 mega watt listrik di bumi dipasena tak menjumpai kendala berarti. Namun saat pengumuman pemenang malah neptune lah yang dianggap pantas merubah nasib ribuan penduduk pesisir utara lampung ini. Cukup bermodal 688 milyar dan sedikit argumen tentang rencana usaha, pt central proteina prima mampu menyihir tim juri untuk tak melirik lagi harga penawaran yang diajukan pt kemilau sebesar 832 milyar. Dengan alasan bussines plan yang kurang detail dan penguasaan terhadap usaha udang yang kurang. pt kemilau dianggap belum mampu mengalahkan neptune, walau induk mereka adalah pemenang penghargaan konstributor eksport terbaik 2001 dan menggeluti usaha hasil laut dengan serius sejak 1994. Dan hingga kini penjelasan yang transparan tentang kekalahan investor anak negeri ini blum juga dipublikasikan. Ada apa?.

baru dimulai, tak peduli lagi bagai mana pt cpp bisa ditunjuk jadi pahlawan, ribuan petambak menyambut hangat niat Babak baik investor asal negeri gajah putih ini. Mereka sudah jenuh hidup dalam keterpurukan dan berharap pahalwan kali ini benar- benar berniat baik bukan Cuma mengumbar pepesan kosong. Dan segera, setelah menancapkan benderanya pt cpp merubah nama pt.Dipasena citra darmaja pada 12 juni 2007 menjadi pt Auna wijaya Sakti (AWS) yang seakan membawa harapan dan angin segar bagi mimpi mimpi kesejahteraan yang diidamkan ribuan karyawan dan petembak plasma. Tapi belum apa-apa pt cpp sudah ngajak ribut masalah perjanjian kerjasama (PKS) ,19 juli 2007 pt cpp ngotot menetapkan pks neptune buat aturan kemitraan yang ada.

Para petambak menolak karna sebelumnya mereka sudah mati-matian menyusun pks 2006 bersama jajaran pemerintah republik indonesia dan juga karna isi pks yang diajukan neptune mirip sekaligus sama dengan pola kemitraan rezim samsul nursalim yang membuat tiga nyawa anak bangsa melayang karna konflik horizontal tahun 2000. Setelah melalui proses perundingan yang sengit akhirnya pt cpp menerima pks 2006 dan merevisi beberapa bagian bersama-bersama dengan tim kelompok kerja plasma (POKJA) yang memakan waktu satu setengah bulan lebih. Dan akhirnya pada tanggal 17 desember 2007 disaksikan gubernur lampung, jajaran manajemen inti dan ribuan petambak plasma secara simbolis perjanjian kerja sama (PKS) antara perusahaan inti dan plasma ditanda tangani di bumi dipasena. Senyum kembali terukir disetiap bibir para petambak ,keceriaan anak-anak dipasena melihat alat-alat berat yang siap merenovasi tambak-tambak bapak mereka untuk sesaat sedikit membantu meredakan kesedihan tentang cerita 300 orang karyawan yang dipecat tak jelas karna menuntut kesejahteraan pada awal september ditahun yang sama.

Genderang revitalisasi dengan segera menggema di setiap sudut bumi dipasena, kata “revit” terdengar begitu akrab dengan lidah para plasma. Penjadwalan ulang revitalisasi memang menjadi agenda pt cpp semenjak menginjakkan kaki di bumi dipasena. Pendataan infrastruktur serta sarana sosial, umum dan budidaya dilakukan dengan penuh ketelitian oleh dua tim dengan tujuan efisiensi dana yang memang sangat terbatas.

Pengenalan dan penerapan budidaya udang species baru Litopenaeus vannamei seolah mampu menjawab permasalahan gagal panen yang selama ini sering disebabkan oleh serangan virus dan bakteri. Meninggalkan udang windu yang merupakan komoditas eksport unggulan semasa kekuasaan samsul nursalim bukan berarti serta merta lepas dari permasalahan flushing. White spot, jenis virus bintik putih pada udang windu ini pun masih tetap menjadi ancaman buat udang vannamei ditambah dengan virus myo (Infectious myonecrosis) yang juga menjadi salah satu penyebab terhentinya produksi di pt cpb yang merupakan salah satu anak perusahaan pt cpp.

sosialisasi tentang tekhnologi budidaya yang mencoba menerapkan water close sistem dan module base sebagai solusi memperkecil kerugian akibat penyakit , malah menyisakan masalah sosial dan lingkungan yang hingga kini belum juga teratasi. Pt cpp menghendaki pembuatan tandon penampungan air yang akan digunakan untuk mensterilisasi air dan mengolah kwalitas air yang digunakan untuk berbudidaya. Mengorbankan empat petak tambak disetiap jalurnya sebagai lahan pembuatan kolam penampungan yang berarti juga membuat dua kepala keluarga harus rela dipindahkan ketempat lain yang masih kosong diareal bumi dipasena, meski meninggalkan bermacam permasalahan namun para petambak plasma menerima dengan lapang dada demi kondisi budidaya yang lebih baik. Dan kenyataan yang terjadi sekarang pond treatment ( tandon penampungan air ) tak lebih hanya sebagai tempat penampungan dan sterilisasi standart (pemberian diklorvos seagai crustacide tanpa memikirkan efek keberlanjutan) yang terus menaikkan tarif pemakaian tanpa adanya upaya pemeliharaan atau perbaikan jasa pengolahan air.

Gemuruh alat berat mulai terdengar memperdalam saluran-saluran air mengiringi keikhlasan para petambak untuk menutup sebagian besar mata pencarian mereka semenjak ditinggal oleh samsul nursalim, mereka tak lagi boleh mencari ikan di saluran air dengan memasang bubu, tanaman sayuran harus rela tertimbun endapan lumpur, dan bersiap meninggalkan kerjaan sampingan lainnya untuk lebih konsentrasi pada proyek rehabilitasi tambak mereka masing-masing. Setengah blok dari keseluruhan 16 blok mulai dikerjakan oleh pahlawan dipasena yang baru ini, dijadwalkan revitalisasi akan rampung dalam 16-18 bulan. Sebuah rencana baru yang membuat ribuan karyawan dan petambak menaruh harapan besar pada pt cpp untuk merubah nasib mereka yang terkatung katung selama ini. Terlepas dari nasib sedih dari sebagian karyawan yang di phk sepihak dan sebagian lagi yang dideportasi ke lahan jagung.

Puluhan truk container bermuatan plastik tambak mulai berdatangan, begitu pula dengan sarana budidaya lainnya seperti kincir air dan kompa submersible. Dan hampir semua pekerjaan lapangan yang berkaitan dengan proyek revitalisasi ini diserahkan pada kontraktor dengan tujuan untuk menekan biaya operasional semininal mungkin, tak sedikit kontraktor yang merugi akibat ditinggal para pekerjanya sebab estimasi biaya untuk upah pekerja ditentukan dari hasil opname dan audit fisik selama beberapa hari kemudian dibagi rata-rata. Sehingga upah yang diterima oleh para pekerja setelah di potong oleh kontraktor untuk pajak dan lain-lain jauh dari jumlah upah minimum regional bahkan tak cukup untuk biaya hidup sehari-hari dibumi dipasena yang terkenal serba mahal. Dan hal ini pula lah yang menjadi salah satu faktor proyek revitalisasi mulai berjalan lambat……… bersambung

 

 


 

cuma cerita cinta 30 Agustus 2010

Posted by dodguervara in Tak Berkategori.
Tags: , , ,
add a comment

Antara aku , kau, bapakku dan bapakmu
( sebuah analogi untuk bumi dipasena, wajah perikanan indonesia. 10 tahun perjuangan tanpa hasil yang memuaskan )

Untung saja siang ini matahari mau bekerja penuh, sudah tiga jam mati lampu . Alhamdulillah, tak terdengar kabar ada udang saudaraku yang mati diseberang sana hanya selentingan berita tenteng kabel jaringan yang tertimpa pohon tumbang.
” Apa tak cukup uang yang dipinjam dari bank untuk beli gergaji?” umpatku.
Nada pesan berdering dari handphone yang ku taruh diatas televisi peninggalan bapak. Genap satu minggu pulsanya tak ku isi, hutang 900 ribu tak bakal cukup untuk biaya hidup sebulan kalau handphone butut itu rutin minta makan.
“ mas, nnti mlm klo bs ke rmh. Ad yg mw aq omongin.” Sebaris pesan singkat dari pacar.
Lagi- lagi buang uang fikirku, tak tau apa dia ini tanggal berapa . padahal aku sudah bilang aku tak lagi bisa cari uang tambahan, cari udang dikali sudah tak boleh, mau tanam sayuran lahannya lumpur semua, mau apalagi. Seharusnya dia tau utang 900 ribu itulah sisa nyawa bulananku satu-satunya. Tapi masalahnya cuma dia perempuan yang aku sayang, walau pekerjaannya cuma tukang jagal kepala udang.
…..
Bensin,rokok dan ongkos nyebrang dua puluh lima ribu, kalau begini tiap malam kapan aku bisa punya uang untuk melamarnya. Sepanjang jalan sambil menggerutu, aku coba mengira-ngira apa yang mau dibicarakannya. Aku khawatir ia bosan pacaran dengan plasma kere macam aku.
“ kok lama banget sih mas…?” sambutan hangat pacarku yang penuh nada sinis karna sudah lama menunggu
“pontonnya (penyebrangan) macet “ jawabku singkat.
“ ada apa to ?” tanyaku sambil duduk mendekatinya
“ aku tadi disuruh berhenti kerja sama saudaramu, mereka bilang atas nama bapakmu” jawabnya dengan nada sinis
“ tapi kamu ndak kenapa-kenapa kan?” timpalku
“ ya, aku sih ndak apa-apa, tapi aku ga bakal dikasih duit sama bapakku kalo cuma kerja setengah hari”.
Aku terpaksa cuma diam. kalau dia sudah bicara soal uang, saat ini aku lebih baik menyerah. Bapaknya dan bapakku dari dulu memang jarang terlihat akur sebab bapaknya sering kali bikin saudara-saudaraku susah, walau bapaknya tiap bulan memberikan hutang padaku dan saudara-saudaraku buat makan bukan berarti bapaknya bisa mengatur kami semau dengkul. Toh hutang yang diberikan pada anak-anaknya bapakku memang sudah menjadi syarat kerjasama yang disanggupi bapaknya di hadapan mbahku dulu.
“kenapa sih mas, kamu, saudaramu juga bapakmu ndak pernah senang dengan bapakku?”. Tanyanya seolah mencoba menyudutkanku
“ kami bukannya ndak senang sama bapakmu, kami cuma nagih omongan dan minta kejelasan nasib sama bapakmu”. Jawabku membela
“ memang bapakku dulu bilang apa?” tanyanya lagi
“dulu bapakmu bilang mau betulkan kolam itu dalam waktu cepat, terus dia bilang mau carikan pinjaman uang buat anaknya bapakku, dan dia juga bilang mau menjamin kesejahteraan ”. Ujarku memberinya pengertian
“ kenapa musti cepat- cepat?”
“ kalau begini terus , utangku semakin numpuk sama bapakmu. Sampai kapan kita pacaran terus, mau kawin modal apa kalo utangku ndak lunas-lunas. Memangnya kamu ndak mau aku lamar?”
Jawabanku yang terakhir membuatnya terdiam, mungkin ia sudah mulai merasakan emosi yang sedari tadi aku simpan. Aku pun tau ia tak sepenuh hati mendukung bapak barunya yang satu ini. Terlebih bapaknya telah mengusir ratusan saudaranya tanpa alasan yang jelas, juga mengasingkan yang sebagian ke kebun jagung. Bapaknya juga sering membuat aturan-aturan baru tanpa memperhatikan upah dan kesejahteraan mbakyu-mbakyu nya.
“ besok kamu kerja,ndak?” tanyaku coba mencairkan suasana
“ saudaramu gimana?, aku takut mereka marah-marah lagi”.ucapnya kembali bertanya
Kupandangi ia dengan penuh senyuman kemudian kutatap matanya dalam-dalam, iba dan kasihan menyelimuti perasaanku
“ saudaraku itu punya istri yang juga kerja tempat bapakmu, ndak mungkin mereka lama-lama marah disana. Mereka pun ndak mungkin marah tanpa alasan, jadi kamu jangan takut saudaraku ndak bakal ngerusak tempatmu kerja. Tempatmu kerja itu duitnya saudara-saudaraku juga” ucapku meyakinkannya
“Memangnya tadi saudaramu marah kenapa to?” tanyanya dengan suara merendah
“saudaraku marah karna bapakmu mbeli udang dengan harga yang ndak sesuai, belum lagi udangnya dipilih-pilih buat nentuin harga. Padahal kamu juga kan tau kalo udang-udang itu akhirnya tercampur, diolah terus dijual dengan harga yang sama” jawabku
“tapi, kadang-kadang ada saudaramu yang datang sendirian sambil marah-marah padahal udangnya memang sudah rusak?” tanyanya lagi mencoba menyudutkanku
“begini…, aku bukannya coba mbela saudaraku cara mereka memang salah, tapi aku yakin kamu juga tau latar belakang pendidikan saudaraku ndak terlalu tinggi dan kamu kan tau udang itu satu-satunya tumpuan hidup aku dan saudaraku. Dan biasanya bapakmu juga yang ndak becus ngurus udang udang yang udah mati itu waktu dibawa ketempatmu kerja, kamu lihatkan peti-peti itu sudah bobrok semua belum lagi masalah lainnya” jawabku panjang sambil berharap ia mengerti
Sebenarnya terlalu banyak ketidak becusan yang telah dilakukan bapaknya selama ini, namun melihatnya merasa tersudut aku jadi tak tega meneruskan perkataanku. Bapaknya sering kali membuat kebijakan yang merugikan aku dan saudaraku menaikkan harga kebutuhan sementara udang yang dibelinya jauh dari kata seimbang. Menjual barang kebutuhan dengan jumlah yang kurang namun membeli udang dari kami dengan jumlah yang harus lebih. Dan bila saudara pacarku ini ada yang salah timbang waktu kami menjual udang tak sungkan-sungkan si bapak ini memecatnya. Dan masih banyak lagi hal-hal lain yang membuat bapaknya pacarku ini membuat susah aku dan saudara-saudaraku juga dia dan saudara-saudarinya.
Hembusan angin malam mulai terasa menusuk, sementara rembulan mulai redup bersinar dibalik awan-awan hitam. Jalan-jalan mulai terlihat sepi membuat suara jangkrik semakin riuh
“dik, mas pulang ya?” pinta ku memecah kebisuan
Pacarku diam tak menjawab, kepalanya menunduk menutupi wajahnya yang tampak penuh beban. Aku bisa merasakan apa yang ia rasakan, bahkan kegelisahan hatinya sudah bertahun-tahun mengendap dihatiku jauh sebelum aku mengenalnya.
“sudah, jangan terlalu kamu pikirkan tentang bapakmu itu, do’akan saja bapakmu itu berubah. Atau kalau ia tak mau berubah kita carikan bapak baru yang lebih baik untuk keluargamu, supaya semuanya jadi lebih baik dan kita bisa lebih cepat menikah… mas pulang ya?” pinta ku lagi sambil merayunya
Anggukan kepalanya mengiringi langkahku, menembus malam dengan awan-awan yang sedari tadi sudah siap menumpahkan hujannya. Kupacu sepeda motor bututku menembus kepulan debu diantara aroma busuk kepala udang, mengejar penyebrangan yang sebentar lagi tutup, mengejar hari esok yang masih penuh dilema antara keluargaku, bapaknya dan hewan yang perutnya ada dikepala.

DIPASENA, OH DIPASENA…. 22 Mei 2010

Posted by dodguervara in another story about life.
add a comment

Suka makan udang? Hewan crustacea yang satu ini memiliki rasa manis yang khas. Ada begitu banyak variasi menu makanan yang berbahan dasar hewan bercarapas ini . mulai dari kerupuk, sate, sampai dendeng. Tapi maaf kali ini kita tidak akan membahas cara membuat makanan dengan bahan dasar udang, melainkan tentang sebuah cerita dari tempat penghasil udang terbesar di negeri ini, sebuah tempat yang hingga hari ini di penuhi dengan orang-orang yang belum juga mengecap manisnya kemerdekaan dari belasan tahun perjuangan. Mungkin ini hal yang lumrah di negeri ini, namun tempat ini pernah menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar untuk negeri ini dari sektor perikanan.

sunset dipasena

Ironis memang, jika sumber daya alam negeri ini dilepas begitu saja pada investor asing yang tak pernah becus dalam manajemen semetara kita sibuk berkoar tentang pemberantasan kemiskinan.

Kondisi dipasena (tambak udang terbesar diasia tenggara) yang kini telah di ambil alih oleh Charoen pokphand Thailand terlihat semakin mengenaskan, walau mungkin pembangunan infrastruktur yang dilakukan menutupi mata perhatian dunia luar, namun kondisi yang sebenarnya masih teramat jauh dari apa yang di harapkan oleh ribuan rakyat negeri ini yang menyandang jabatan sebagai petambak ex dipasena. Empat tahun yang lalu charoen pokphand group mengambil alih kekuasaan wilayah pertambakan diujung utara lampung ini yang kemudian merubah namanya menjadi pt Aruna Wijaya Sakti.

Gebrakan awal yang dibuat oleh pihak manajemen perusahaan memang sempat membuat sebagian petambak yakin dan percaya bahwa pt AWS mampu merubah kondisi kehidupan mereka yang sudah belasan tahun terpuruk dalam perjuangan menuju kesejahteraan. Namun lambat laun gema revitalisasi tersebut meredup seolah lenyap tersapu angin rawa, dan hanyut terbawa arus pasang surut air kanal.

Keuangan adalah faktor utama yang menyebabkan terhentinya proses revitalisasi di bumi dipasena namun, di berbagai media massa pihak manajemen perusahaan selalu berdalih tentang tekhnis, musim, cuaca dan sebagainya, yang mengharuskan mereka memperlambat proses revitalisasi yang sedang berjalan di wilayah yang sangat strategis untuk budidaya udang tersebut. Bumi dipasena diapit oleh dua sungai besar dilampung, sehingga menciptakan kondisi perairan yang kondusif bagi usaha budidaya udang. Menjadikan alam sebagai alasan untuk memperlambat proses budidaya dan revitalisasi sungguh tidak relevan. Terlebih dengan tekhnologi water treatment yang diterapkan oleh pihak perusahaan sebagai standart operasi budidaya yang dilakukan, tekhnologi yang juga memberatkan para petambak, karna biaya operasional yang dibebankan untuk tekhnologi tersebut tidak sesuai dengan hasilnya.

 


tekhnologi….???

Demikian pula halnya dengan teknis pengerjaan tambak dan beberapa infrastruktur lainnya, para petambak telah siap menjadi tenaga kerja untuk mengerjakan tambaknya masing-masing. Yang sudah barang tentu mereka lebih memahami karakteristik tambak mereka sendiri sehingga tekhnis pengerjaan bisa lebih efektif.



Sudah belasan tahun para petambak terpuruk dalam kondisi yang tak tentu arah, yg kemudian dengan kebijakan pemerintah seluruh asset pt dipasena ini dilimpahkan kepada charoen pokphand group dengan harga lelang yang terbilang murah. Dengan harapan proses revitalisasi dan ekonomi ribuan petambak dapat pulih kembali dengan secepatnya. Namun hingga hari ini, kondisi di bumi dipasena msih juga terpuruk…

introducing 22 April 2010

Posted by dodguervara in Tak Berkategori.
Tags:
add a comment

“Aku tak tau harus mulai dari mana aku tak tau harus menulis apa” syair lagu bang iwan yang satu ini kaya’nya ngepas banget sekarang. Blog ne dah lama dibuat tapi satu pun inpirasi ga juga dateng. Akhirnya mungkin mang harus di awalin ma syairnya bang iwan (makasih banyak sang maestro).
Blog ini saya harapkan bisa menjadi media belajar, sharing, dan sarana interaksi antara saya dengan para penduduk dunia maya. Sukur –syukur bisa jadi penghasilan tambahan ( siapa tau ada master seo yang cari murid buat dititisin ilmu. Ngarep, kapan lakunya tutorial kalo semua blog kaya gini hehehe). Ada banyak hal dari secuil pengetahuan yang terselip dicelah-celah otak yang mungkin bisa berguna kalo dibagi bagi. Kata orang tak berguna buat kita mungkin berguna buat orang lain.
Belum tau kemana arah blog ini, blum
jelas mw di apain semoga inspirasi terus menyusul

Halo dunia! 22 April 2010

Posted by dodguervara in Tak Berkategori.
1 comment so far

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!