jump to navigation

Tambak udang 3 September 2010

Posted by dodguervara in Tak Berkategori.
trackback

Tambak udang dan keplasmaannya (part 1)

(keberlanjutan dan hak kemerdekaan ekonomi anak bangsa)

 

Sebuah wacana yang berjudul “kebangkitan”.

Sejak terjadinya peristiwa kerusuhan yang menelan korban jiwa pada awal maret tahun 2000 . sebanyak 16.500 hektar tambak udang di pesisir utara lampung tak lagi beroperasi sebagai mana mestinya. Eksport udang indonesia menurun drastis dan ribuan petambak plasma pt dipasena citra darmaja terkatung-katung nasibnya, lembaga bantuan hukum untuk para petambak plasma yang tergabung dalam Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu (pppuw) segera mendesak pemda setempat untuk mengutamakan kasus pt dipasena karna termasuk aset yang cukup besar untuk menopang perekonomian di propinsi lampung, namun hingga kini tak juga ada usaha nyata dari pihak-pihak terkait untuk membantu penyelesaian masalah yang terjadi di wilayah tambak udang terbesar di asia tenggara ini.

Ribuan petambak yang pernah ikut andil memberi sumbangsih devisa US$ 167 juta kepada negara pada tahun 1996 dan US$ 131 juta pada awal krisis tahun 1997 , acap kali menjadi bulan-bulanan politik dari pihak-pihak tak bertanggung jawab yang mencoba mengambil keuntungan. Namun terlepas dari semua itu, para petambak justru menjadi lebih tanggap dan kritis terhadap aturan-aturan pola kemitraan dan hak-hak azasi sebagai warga negara.

Perhimpunan petambak plasma udang windu (pppuw) lampung yang resmi didirikan pada tanggal 30 september 1998 menjadi satu-satunya wadah aspirasi bagi 9032 kk yang hidup dan berbudidaya secara mandiri di wilayah bekas kekuasaan salah satu orang terkaya di negeri ini. Meski tak lagi melakukan aktifitas eksport ke negara luar namun setidaknya para plasma ini mampu sedikit memperbaiki kondisi ekonomi, juga sosial dan budaya yang semestinya terjadi di atas setiap tanah yang mengibarkan kain merah dan putih sebagai bendera. Dibangunnya lembaga ekonomi p3uw, bantuan serba guna untuk kondisi keamanan, pengadaan dan perbaikan sarana sosial dan umum, sarana budidaya,dan penambahan sarana pendidikan memberikan secercah stabillitas untuk kehidupan plasma yang sesungguhnya berperan sangat besar dalam perkembangan wilayah-wilayah transmigrasi di sekitar areal pertambakan tersebut. Bahkan ukm-ukm bidang pembibitan udang yang tersebar dipesisir selatan lampung hingga jawa barat pun ikut merasakan hal ini.

Seiring waktu dan kondisi alam bumi dipasena yang terus tersuspensi oleh sedimen lumpur dari aliran sungai mesuji dan tulang bawang, kanal-kanal pembuangan dan saluran masuk mengalami pendangkalan yang menjadi masalah baru dalam proses budidaya mandiri yang berjalan apa adanya. Belum lagi ditambah limbah dari pabrik pengolahan udang dan pabrik pakan milik pt dipasena yang masih beroperasi didalam lokasi dan berjalan tanpa pengawasan ketat dari intansi lingkungan hidup setempat.

Keuangan dan tekhnis sudah barang tentu merupakan titik kelemahan bagi setiap petani tak terkecuali plasma, sehingga pemeliharaan sarana dan optimalisasi tambak-tambak yang ada tak mungkin terwujud tanpa adanya campur tangan investor dan pemerintah. Pelaksanaan budidaya di bumi dipasena akhirnya mendapat perhatian serius dari pemerintah setelah pt dipasena diserahkan kepada Badan penyehatan perbankan nasional (BPPN) sebagai aset negara karna didalamnya menyangkut masalah hajat hidup orang banyak . Menunggu kepastian dalam keterpurukan bukanlah hal yang mudah ,para petambak terus mendesak pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan dan segera merevitalisasi sarana yang ada. Sementara untuk bertahan hidup dan membiayai perjuangan mereka mencari ikan disaluran-saluran air, menjual barang bekas ,bercocok tanam dan lain-lain.

Setelah sekian lama menunggu akhirnya pemerintah memberi respon positif terhadap tuntutan para petambak, melalui perusahaan pengelola aset (ppa) pt dipasena ditawarkan secara terbuka kepada para investor yang akhirnya dimenangkan oleh recapital advisor milik dua karib, Sandiaga Uno dan Rosan Perkasa Roeslani setelah mengalahkan beberapa pesaing lainnya. Diakhir oktober 2005 Pahlawan baru untuk ribuan petambak dan karyawan pt dipasena ini menyanggupi persyaratan yang diajukan pemerintah berupa kewajiban membayar dana talangan dan beberapa opsi tentang kepemilikan saham, bayangan tentang kehidupan yang lebih layak tergambar jelas diraut wajah anak-anak bangsa bumi dipasena. Namun senyum itu tak bertahan lama, 1 maret 2007 persis tujuh tahun sejak kejadian mencekam yang menewaskan dua orang anggota brimob dan satu orang petambak, recavital advisor melepas pt dipasena kembali ke pangkuan pemerintah. Infeksi lambung manajemen dan masalah sistem pencernaan pada hal-hal komlpeksitas yang salah perhitungan membuat recapital advisor harus merelakan dana 700 milyar yang hendak di konversikan menjadi saham.

Kembali menanti dalam ketidakpastian, ribuan hectare petakan tambak yang terabaikan, harapan-harapan yang kembali menjadi angan, lilitan hutang yang semakin dalam, dan konflik internal yang bermunculan ternyata tak menyurutkan perjuangan pengurus dan ribuan anggota perhimpunan petambak plasma udang windu (PPPUW) lampung ini untuk terus mendukung realisasi dari pemerintah pusat untuk meneruskan program revitalisasi seperti yang mereka idam-idamkan. Dengan pertimbangan pelaksanaan revitalisasi secepatnya dan syarat minimal lima tahun pengalaman usaha budidaya udang serta uang tunjuk 1,7 trilyun ,kali ini pt ppa hanya mampu menggaet empat kontestan. Dan ketika uji kelayakan dimulai dua diantaranya dinyatakan kalah, konsorsium dari thailand yang bernama ‘thai royal’ tak bisa maju karna tak dapat dukungan dari induk perusahaannya sementara ‘laranda’ jagoan dari filipina di nilai ko karna belum setor uang keamanan buat deposito. Sehingga tersisalah dua calon pahlawan ‘kemilau bintang timur’ yang membawa bendera merah putih dan, ‘neptune’ bermotor central proteinaprima yang disinyalir tetasan charoen pokphand, konglomerat asal thailand yang juga pernah berniat memiliki aset dipasena ketika lelang pertama pada oktober 2005 dan harus mundur karna recapital advisor dinyatakan sebagai pemenang.

Tim juri yang pada saat itu, yang terdiri atas pt ppa dan tim independen disaksikan oleh tim kejaksaan agung dan badan pengawasan keuangan dan pembangunan (bpkp) membuat tiga kriteria penilaian yaitu, profil perusahaan, komitmen pendanaan dan rencana usaha. Pt kemilau bintang timur pada saat itu berusaha mati-matian untuk memenangkan kontes lelang tersebut. Mulai dari topangan dana fund asia, menyanggupi pembayaran gaji 8.000 karyawan, hingga menggaet medco energi untuk memastikan 160 mega watt listrik di bumi dipasena tak menjumpai kendala berarti. Namun saat pengumuman pemenang malah neptune lah yang dianggap pantas merubah nasib ribuan penduduk pesisir utara lampung ini. Cukup bermodal 688 milyar dan sedikit argumen tentang rencana usaha, pt central proteina prima mampu menyihir tim juri untuk tak melirik lagi harga penawaran yang diajukan pt kemilau sebesar 832 milyar. Dengan alasan bussines plan yang kurang detail dan penguasaan terhadap usaha udang yang kurang. pt kemilau dianggap belum mampu mengalahkan neptune, walau induk mereka adalah pemenang penghargaan konstributor eksport terbaik 2001 dan menggeluti usaha hasil laut dengan serius sejak 1994. Dan hingga kini penjelasan yang transparan tentang kekalahan investor anak negeri ini blum juga dipublikasikan. Ada apa?.

baru dimulai, tak peduli lagi bagai mana pt cpp bisa ditunjuk jadi pahlawan, ribuan petambak menyambut hangat niat Babak baik investor asal negeri gajah putih ini. Mereka sudah jenuh hidup dalam keterpurukan dan berharap pahalwan kali ini benar- benar berniat baik bukan Cuma mengumbar pepesan kosong. Dan segera, setelah menancapkan benderanya pt cpp merubah nama pt.Dipasena citra darmaja pada 12 juni 2007 menjadi pt Auna wijaya Sakti (AWS) yang seakan membawa harapan dan angin segar bagi mimpi mimpi kesejahteraan yang diidamkan ribuan karyawan dan petembak plasma. Tapi belum apa-apa pt cpp sudah ngajak ribut masalah perjanjian kerjasama (PKS) ,19 juli 2007 pt cpp ngotot menetapkan pks neptune buat aturan kemitraan yang ada.

Para petambak menolak karna sebelumnya mereka sudah mati-matian menyusun pks 2006 bersama jajaran pemerintah republik indonesia dan juga karna isi pks yang diajukan neptune mirip sekaligus sama dengan pola kemitraan rezim samsul nursalim yang membuat tiga nyawa anak bangsa melayang karna konflik horizontal tahun 2000. Setelah melalui proses perundingan yang sengit akhirnya pt cpp menerima pks 2006 dan merevisi beberapa bagian bersama-bersama dengan tim kelompok kerja plasma (POKJA) yang memakan waktu satu setengah bulan lebih. Dan akhirnya pada tanggal 17 desember 2007 disaksikan gubernur lampung, jajaran manajemen inti dan ribuan petambak plasma secara simbolis perjanjian kerja sama (PKS) antara perusahaan inti dan plasma ditanda tangani di bumi dipasena. Senyum kembali terukir disetiap bibir para petambak ,keceriaan anak-anak dipasena melihat alat-alat berat yang siap merenovasi tambak-tambak bapak mereka untuk sesaat sedikit membantu meredakan kesedihan tentang cerita 300 orang karyawan yang dipecat tak jelas karna menuntut kesejahteraan pada awal september ditahun yang sama.

Genderang revitalisasi dengan segera menggema di setiap sudut bumi dipasena, kata “revit” terdengar begitu akrab dengan lidah para plasma. Penjadwalan ulang revitalisasi memang menjadi agenda pt cpp semenjak menginjakkan kaki di bumi dipasena. Pendataan infrastruktur serta sarana sosial, umum dan budidaya dilakukan dengan penuh ketelitian oleh dua tim dengan tujuan efisiensi dana yang memang sangat terbatas.

Pengenalan dan penerapan budidaya udang species baru Litopenaeus vannamei seolah mampu menjawab permasalahan gagal panen yang selama ini sering disebabkan oleh serangan virus dan bakteri. Meninggalkan udang windu yang merupakan komoditas eksport unggulan semasa kekuasaan samsul nursalim bukan berarti serta merta lepas dari permasalahan flushing. White spot, jenis virus bintik putih pada udang windu ini pun masih tetap menjadi ancaman buat udang vannamei ditambah dengan virus myo (Infectious myonecrosis) yang juga menjadi salah satu penyebab terhentinya produksi di pt cpb yang merupakan salah satu anak perusahaan pt cpp.

sosialisasi tentang tekhnologi budidaya yang mencoba menerapkan water close sistem dan module base sebagai solusi memperkecil kerugian akibat penyakit , malah menyisakan masalah sosial dan lingkungan yang hingga kini belum juga teratasi. Pt cpp menghendaki pembuatan tandon penampungan air yang akan digunakan untuk mensterilisasi air dan mengolah kwalitas air yang digunakan untuk berbudidaya. Mengorbankan empat petak tambak disetiap jalurnya sebagai lahan pembuatan kolam penampungan yang berarti juga membuat dua kepala keluarga harus rela dipindahkan ketempat lain yang masih kosong diareal bumi dipasena, meski meninggalkan bermacam permasalahan namun para petambak plasma menerima dengan lapang dada demi kondisi budidaya yang lebih baik. Dan kenyataan yang terjadi sekarang pond treatment ( tandon penampungan air ) tak lebih hanya sebagai tempat penampungan dan sterilisasi standart (pemberian diklorvos seagai crustacide tanpa memikirkan efek keberlanjutan) yang terus menaikkan tarif pemakaian tanpa adanya upaya pemeliharaan atau perbaikan jasa pengolahan air.

Gemuruh alat berat mulai terdengar memperdalam saluran-saluran air mengiringi keikhlasan para petambak untuk menutup sebagian besar mata pencarian mereka semenjak ditinggal oleh samsul nursalim, mereka tak lagi boleh mencari ikan di saluran air dengan memasang bubu, tanaman sayuran harus rela tertimbun endapan lumpur, dan bersiap meninggalkan kerjaan sampingan lainnya untuk lebih konsentrasi pada proyek rehabilitasi tambak mereka masing-masing. Setengah blok dari keseluruhan 16 blok mulai dikerjakan oleh pahlawan dipasena yang baru ini, dijadwalkan revitalisasi akan rampung dalam 16-18 bulan. Sebuah rencana baru yang membuat ribuan karyawan dan petambak menaruh harapan besar pada pt cpp untuk merubah nasib mereka yang terkatung katung selama ini. Terlepas dari nasib sedih dari sebagian karyawan yang di phk sepihak dan sebagian lagi yang dideportasi ke lahan jagung.

Puluhan truk container bermuatan plastik tambak mulai berdatangan, begitu pula dengan sarana budidaya lainnya seperti kincir air dan kompa submersible. Dan hampir semua pekerjaan lapangan yang berkaitan dengan proyek revitalisasi ini diserahkan pada kontraktor dengan tujuan untuk menekan biaya operasional semininal mungkin, tak sedikit kontraktor yang merugi akibat ditinggal para pekerjanya sebab estimasi biaya untuk upah pekerja ditentukan dari hasil opname dan audit fisik selama beberapa hari kemudian dibagi rata-rata. Sehingga upah yang diterima oleh para pekerja setelah di potong oleh kontraktor untuk pajak dan lain-lain jauh dari jumlah upah minimum regional bahkan tak cukup untuk biaya hidup sehari-hari dibumi dipasena yang terkenal serba mahal. Dan hal ini pula lah yang menjadi salah satu faktor proyek revitalisasi mulai berjalan lambat……… bersambung

 

 


 

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: